Minggu, 04 Desember 2011

Tingkatkan Kesadaran Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Anak melalui Modifikasi Wayang Golek

Insidensi rampan karies pada anak usia pra sekolah yang berkisar 3-6 tahun lebih banyak ditemukan di Negara berkembang dengan prevalensi sebesar 90%. Oleh karena diperlukan promosi kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Salah satunya melalui modifikasi wayang golek modern sebagai properti edukatif yang digunakan sebagai media komunikasi dalam promosi kesehatan gigi dan mulut anak
Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswi Jurusan Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK – UMY), Rahmi Ayu Budi Amalia. Penelitiannya ini juga masuk sebagai 20 besar dalam Lecture Contest 2011 of International Dental Student in Collaboration with Dental Students Welfare Association of India.
Menurutnya insidensi rampan karies pada anak usia pra sekolah yang berkisar 3-6 tahun lebih banyak ditemukan di Negara berkembang dengan prevalensi sebesar 90%. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat di Negara berkembang tersebut. “Selain itu pola makan dan kebiasaan yang tidak sehat seperti kecenderungan orang tua dalam memberikan susu botol terhadap anaknya,” terang Rahmi ketika ditemui di Kampus Terpadu UMY, Selasa (9/8).
Rahmi menjelaskan rampan karies merupakan salah satu penyakit gigi berlubang yang akut dan parah pada pasien anak dengan ditandai munculnya karies di sekitar gigi seri atas dan lanjut mengenai pada gigi geraham besar. Bagi orang tua yang membiarkan susu botol anaknya tetap berada di rongga mulut sepanjang malam sehingga jumlah air liur (saliva) menurun yang menyebabkan tidak berhasilnya proses pelarutan dan pembersihan dari asam. Bagi anak yang tertidur saat meminum susu botol, maka cairan susu akan tertinggal di gigi depan sehingga rongga mulut menjadi hangat. Hal ini menjadikan terbentuknya asam dan proliferasi bakteri sehingga rampan karies terbentuk.
Lebih lanjut, Ia memaparkan prevalensi karies pada anak usia satu tahun mencapai 5%, sementara pada anak usia dua tahun berkisar 10%, anak usia tiga tahun sebesar 40%, sebesar 55% pada anak usia empat tahun, dan anak usia lima tahun dengan prevalensi sebesar 75%. “Dari prevalensi tersebut, dapat disimpulkan sebagian besar anak Indonesia usia pra sekolah terserang rampan karies,” papar Rahmi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Rahmi mengungkapkan promosi kesehatan menjadi salah satu solusi dalam mencegah perkembangan rampan karies. “Dalam promosi kesehatan disadari ada beberapa kendala yang dihadapi, terlebih dalam memberikan kesadaran kepada anak usia pra sekolah. Oleh karenanya, para tenaga kesehatan perlu melakukan sesuatu yang kreatif dan lebih menarik sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami mereka sehingga kejadian rampan karies anak dapat dikurangi,” ungkapnya. Penelitian ini telah diuji cobakan di TK Dharma Bakti IV Ngebel Yogyakarta dan hasilnya modifikasi wayang golek modern mempengaruhi indeks plak serta meningkatkan pengetahuan anak usia pra sekolah.
Rahmi pun kemudian melakukan modifikasi wayang golek modern sebagai properti edukatif yang digunakan sebagai media komunikasi dalam promosi kesehatan gigi dan mulut anak. Wayang golek modern ini dibuatkan dari kain flanel warna-warni berbentuk boneka. “Dengan modifikasi wayang golek berupa boneka berbentuk gigi dan kuman, keduanya mempengaruhi dalam peningkatan pengetahuan anak usia pra sekolah  mengenai kesehatan gigi dan mulut serta menurunkan indeks plak pasca promosi kesehatan gigi dan mulut pada mereka,” urai Rahmi.
Ia menerangkan jika promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan gigi, dimana konsep tersebut tidak sekadar proses memberikan kesadaran bagi anak agar meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, namun juga menjembatani perubahan perilaku anak sehingga promosi kesehatan dapat membawa hasil yang lebih mendalam.
Bagi Rahmi, dipilihnya wayang golek modern sebagai alat komunikasi edukatif mengingat wayang golek merupakan hasil karya seni budaya Indonesia. Namun saat ini wayang golek seakan hilang dari peradaban karena maraknya globalisasi dunia sehingga anak- anak tidak lagi mengenal wayang golek sebagai budaya mereka. “Dengan demikian, modifikasi wayang golek modern tersebut efektif dalam menampilkan pesan sehingga anak tak hanya memiliki pengetahuan, namun juga mau mengubah kebiasaan buruknya yang memicu munculnya rampan karies,” tandasnya.

PERAN FLUOR DALAM PENCEGAHAN KERUSAKAN GIGI

Banyak yang anggapan di masyarakat bahwa untuk memelihara gigi hanya perlu dilakukan dengan sikat gigi saja. Anggapan seperti ini dapat benar, tetapi dapat juga salah, artinya tidak hanya dengan sikat gigi saja. Yang terpenting disini bukanlah persoalan benar atau tidak, tetapi bagaimana masyarakat mengerti manfaat dari setiap unsur yang mendukung pemeliharaan atau pencegahan kerusakan gigi.
Diantara unsur yang ada tersebut adalah zat fluor yang ada di pasta gigi, yang digunakan setiap hari pada waktu sikat gigi.
Zat tersebut sangat penting peranannya dalam pencegahan kerusakan gigi.

Apa itu Fluor? Fluor adalah salah satu zat yang dalam jumlah tertentu ada secara bebas dalam alam, seperti tanah, air dan bahan makanan seperti ikan, roti, dll.
Apakah fluor yang terkandung dalam makanan tersebut sudah cukup untuk mencegah kerusakan gigi?, kalau memang secara teratur kita makan makanan dengan kandungan fluor yang cukup maka hal tersebut dapat mencegah kerusakan gigi tanpa harus ditambah dengan fluor khusus. Tetapi karena kita tidak tahu akan kandungan tersebut, maka melalui pasta gigi juga akan ikut membantu pencegahan kerusakan gigi, selain kebersihan, keharuman dan kesegaran, sehingga menambah rasa percaya diri.
Zat fluor ini sangat penting untuk pemeliharaan gigi agar tetap sehat, terutama pada anak-anak, karena dengan jumlah fluor yang masuk akan dapat membantu pembentukan enamel gigi yang lebih tahan terhadap kerusakan. Disamping itu, fluor juga bermanfaat untuk mencegah proses pembusukan gigi.

Sebenarnya fluor dapat digunakan melalui 2 cara yaitu melalui kontak langsung dengan gigi, seperti kumur memakai larutan fluor khusus (seperti program fluoridasi pada anak sekolah, memakai pasta gigi yang mengandung fluor, mengoleskan fluor ke gigi secara langsung yang dilakukan oleh dokter gigi) dan melalui proses pencernaan yaitu dengan meminum air atau susu, minum tablet flour atau obat tetes.

Fluor dalam air minum sebenarnya sangat bermanfaat bagi banyak orang dan sangat efektif dalam pencegahan kerusakan gigi, terutama pada anak kecil yang masih dalam proses pertumbuhan.

"fluor bukan untuk menyembuhkan gigi yang sudah rusak, tetapi memperkuat daya tahan gigi terhadap pengaruh keasaman yang menyebabkan gigi berlubang "
Apakah fluor berbahaya ?

Semua zat bila digunakan tidak semestinya atau berlebihan maka akan menyebabkan masalah atau berbahaya bagi kesehatan. Seperti juga fluor yang akan menyebabkan:
1. Kerusakan pada gigi berupa perubahan warna gigi menjadi tidak putih lagi seperti gigi yang sehat tetapi menjadi pucat dan buram dan yang paling parah adalah warna gigi menjadi gelap dan gigi menjadi rapuh. Proses tersebut disebut fluorosis. Fluorosis tidak dapat diobati, tetapi kalau tanda tersebut diketahui lebih awal dapat dicegah agar tidak lebih berlanjut.
2. Kelebihan fluor tersebut juga akan merusak tulang, mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada tulang dan akibat yang paling fatal dapat mengakibatkan kelumpuhan.
3. Hal ini juga dapat menyebabkan anemia, gigi menjadi bercak-bercak atau spot dan yang sangat berbahaya dapat menyebabkan gagal ginjal.

BAGAIMANA DENGAN PASTA GIGI DAN AIR MINUM YANG TERSEDIA ?

Hal tersebut diatas merupakan pertanyaan yang bagus, bagaimana masyarakat dapat tahu bahwa pasta gigi yang beredar cukup kandungan fluornya dan bagaimana dengan Air minum kita? Seperti kita ketahui bahwa pemerintah sudah mempunyai semua aturan dalam pembuatan semua jenis produk yang digunakan oleh masyarakat. Kalau memang dipatuhi, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Tetapi perlu juga kita mewaspadai kemungkinan adanya kelalaian petugas di lapangan. Dalam hal ini semua produk pasta gigi sudah dibawah pengawasan pada proses pembuatannya, sehingga semua pasta dapat digunakan hanya saja tergantung dalam rasa, dan aromanya. Begitu juga dengan Air minum kita.


Minum Susu Botol Picu Karies pada Anak

Pola makan tidak sehat dan kecenderungan para orang tua memberikan susu botol pada anak-anak dapat memicu timbulnya penyakit gigi berlubang yang akut dan parah yang disebut dengan istilah rampan karies.
Penyakit yang  ditandai dengan munculnya karies di sekitar gigi seri atas dan gigi geraham besar itu kini banyak ditemukan pada anak usia 3-6 tahun di negara berkembang dengan prevalensi 90 persen.
Menurut peneliti dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rahmi Ayu, rampan karies disebabkan oleh kurangnya kesadaran para orang tua akan pentingnya menjaga dan menanamkan kesehatan gigi dan mulut  sejak usia dini.
"Orang tua yang membiarkan susu botol anaknya tetap berada di rongga mulut sepanjang malam sehingga jumlah air liur (saliva) menurun menyebabkan tidak berhasilnya proses pelarutan dan pembersihan dari asam," kata Rahmi di Yogyakarta, Rabu (10/8/2011).
Ia mengatakan, anak yang tertidur saat meminum susu botol, maka cairan susu akan tertinggal di gigi depan, sehingga rongga mulut menjadi hangat. Hal itu menjadikan terbentuknya asam dan proliferasi bakteri, sehingga rampan karies terbentuk.
"Prevalensi karies pada anak usia satu tahun mencapai lima persen, sedangkan pada anak usia dua tahun sekitar 10 persen, anak usia tiga tahun 40 persen, anak usia empat tahun 55 persen, dan anak usia lima tahun dengan prevalensi 75 persen," tambahnya.
Menurut dia, dari prevalensi tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak Indonesia usia prasekolah terserang rampan karies.
Untuk mengatasi hal itu, promosi kesehatan menjadi salah satu solusi dalam mencegah perkembangan rampan karies. Dalam promosi kesehatan disadari ada beberapa kendala yang dihadapi, terlebih dalam memberikan kesadaran kepada anak usia prasekolah.
Oleh karena itu, kata dia, para tenaga kesehatan perlu melakukan sesuatu yang kreatif dan lebih menarik, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami mereka, yang pada akhirnya kejadian rampan karies anak dapat dikurangi.
Salah satunya melalui modifikasi wayang golek modern sebagai properti edukatif yang digunakan untuk media komunikasi dalam promosi kesehatan gigi dan mulut anak.
Ia mengatakan dipilihnya wayang golek modern sebagai alat komunikasi edukatif karena wayang golek merupakan hasil karya seni budaya Indonesia. Namun, saat ini wayang golek seakan hilang dari peradaban karena maraknya globalisasi dunia sehingga anak- anak tidak lagi mengenal wayang golek sebagai budaya mereka.
Dengan demikian, modifikasi wayang golek modern tersebut efektif dalam menampilkan pesan, sehingga anak tak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mau mengubah kebiasaan buruknya yang memicu munculnya rampan karies.
"Penelitian itu telah diujicobakan di TK Darma Bakti IV Ngebel Yogyakarta, dan hasilnya modifikasi wayang golek modern mempengaruhi indeks plak dan meningkatkan pengetahuan anak usia prasekolah," katanya.

CARIES GIGI PADA ANAK USIA DINI YANG DISEBABKAN STREPTOKOKUS

Caries pada anak disebabkan oleh banyak faktor, caries ini dimasukkan dibawah judul

streptokokus karena disebabkan oleh spesies streptokokus. Ciri khas caries pada anak-anak
adalah pertama yang terkena biasanya gigi seri pada maxilla tetapi jarang terjadi pada gigi seri
mandibula, gigi susu lainnya yang terkena bervariasi. Oleh karena terjadinya caries tersebut
berhubungan dengan pola kebiasaan yang khas dalam memberi makan pada anak, maka
kerusakan gigi tersebut dinamakan “NURSING BOTTLE CARIES” atau “Baby bottle tooth
decay”, walaupun caries seperti ini terjadi pula pada anak-anak yang menggunakan cangkir.
Streptococcus mutans ditemukan didalam gigi yang berlubang. Pada percobaan hewan yang
diberikan makanan yang mengandung gula streptokokus terbukti mengakibatkan caries gigi.
Streptokokus gram positif yang anaerob fakultatif ini termasuk grup streptokokus viridans
dan biasanya kelompok alfa dan gamma yang menghemolisis agar darah. Untuk proses
kolonisasi organisme ini membutuhkan permukaan gigi yang tidak lepas, biasanya pada
plaque gigi.
Caries pada anak-anak tersebar secara global dengan prevalensi tertinggi di negara
berkembang. Anak-anak cacat, tidak tergantung pada etnis dan budaya tertentu dan mereka
yang memiliki berat badan lahir rendah, paling sering terkena; yang sering terkena caries juga
adalah anak dengan enamel hypoplasia, sering berhubungan dengan status gizi yang kurang
selama dalam proses pembentukan gigi awal. Reservoir oenting dari mana bayi mendapatkan
mutan streptokokus adalah ibunya; strain yang diisolasi dari ibu dan bayi mereka mempunyai
ciri baik profil bacteriocin-nya, plasmid maupun pola chromosomal DNA-nya.
Penularan dari ibu ke anak melalui air liur yang mengandung streptokokus ditularkan pada
waktu mencium bayi dengan bibir, membasahi putting susu atau dot dengan air liur atau pada
waktu mencicipi makanan melalui sendok makan sebelum diberikan pada bayi. Kolonisasi
tergantung dari jumlah organisme yang ada dalam air liur ibu, ibu yang giginya berlubang
498
biasanya mempunyai risiko tinggi mengandung mutan streptokokus dalam air liurnya.
Untuk mencegah caries gigi pada anak usia dini, lakukan kegiatan promosi kesehatan tentang
kebersihan gigi dan mulut kepada ibu-ibu. Para ibu dianjurkan untuk menyapih anaknya dari
pemberian susu botol sedini mungkin. Berikan penjelasan kepada ibu-ibu tentang bahaya
timbulnya caries gigi pada anak-anaknya yang diberi minum susu botol dan yang diberi
makanan yang mengandung kadar gula tinggi. Ingatkan juga kepada ibu-ibu agar jangan
melakukan hal-hal yang dapat memudahkan masuknya saliva kemulut bayi, terutama ibu atau
pengasuh lainnya yang mempunyai caries gigi yang tidak dirawat.