Kamis, 27 Oktober 2011

Perawatan Gigi Pada Pasien Anak Berkebutuhan Khusus

Sudahkah anda tahu mengenai istilah Anak Berkebutuhan Khusus?
Menurut Wikipedia Indonesia; anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa
selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Secara definisi operasional saya sih, Anak Berkebutuhan Khusus disingkat dengan ABK, merupakan anak yang membutuhkan perlakuan lebih istimewa dalam menunjang hidup sehari-harinya dibandingkan anak lainnya, keistimewaan ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki anak tersebut.

Pada tulisan kali ini, saya sengaja menuliskan kembali karena teringat sewaktu membantu salah seorang dokter gigi senior dan salah seorang pembimbing saya waktu itu, yaitu Drg.Kirana Lina Gunawan. Beliau yang mengajarkan saya bagaimana seorang dokter gigi juga wajib dan peduli untuk merawat pasien ABK. Salah satu contoh nyata saat itu adalah pasien tunagrahita atau lebih sering dikenal dengan retardasi mental.

Anak dengan retardasi mental tentu akan sulit diajak berkomunikasi apalagi berkerja sama dengan baik untuk dilakukan perawatan. Anak normal saja butuh usaha yang luar biasa untuk dilakukan perawatan dengan mudah, karena naluri alamiah anak kecil yang takut akan berhadapan dengan dokter gigi.

Salah satu metode yang sering digunakan untuk mengatasi ini, adalah penggunaan fasilitas Special Dental Care (SDC). Fasilitas SDC ini merupakan fasilitas pendukung untuk semua jenis perawatan dibidang kedokteran gigi tidak hanya untuk pasien ABK, tapi juga untuk pasien jenis lainnya; salah satunya adalah pasien-pasien dengan kondisi penyakit sistemik, pasien yang sudah berumur sangat tua dan lemah, pasien yang akan dilakukan radioterapi dan kemoterapi.

Untuk kasus pasien ABK, biasanya digunakan metode sedasi inhalasi dilakukan sebelum dilakukan pemeriksaan maupun perawatan klinis secara langsung. Ada beberapa jenis sedasi sebenarnya, termasuk sedasi oral, tapi saya akan bercerita saja mengenai sedasi inhalasi. Sedasi Inhalasi digunakan gas campuran N2O-O2.

Saat itu, pasien datang ditemani ibu kandungnya juga seorang pengasuhnya sekaligus, saat memasuki ruangan saja, pasien ABK sudah begitu tidak nyaman, karena bagaimanapun ruangan perawatan adalah ruangan asing baginya. Apalagi harus bertemu orang asing, yaitu dokter gigi selaku operator, dan juga perawat. Setelah dilakukan penenangan oleh ibu kandung dan upaya untuk saling mengenal lebih dekat dahulu antara pasien-dokter gigi-perawat, akhirnya pasien dapat diposisikan di dental chair. Setelah itu perawat menyiapkan semua peralatan dan mengecek kembali alat-alat yang akan dibutuhkan, termasuk tabung gas N2O-O2.

Pada langkah pertama tentunya, pemasangan sungkup yang menutup bagian hidup dan mulut pasien, selanjutnya mengeluarkan gas N2O-O2 sesuai dengan kondisi pasien hingga tercapai stadium 1 pasien sudah mulai kooperatif, ini bisa dites dengan langsung berkomunikasi dan memberi perintah pada pasien, kondisi ini pasien sudah disorientasi, penurunan kesadaran.
Operator tetap memperhatikan flowmeter yang terpasang alat tabung gas sedasi inhalasi. Pasien juga dipantau denyut jantung dan nadinya menggunakan pulsemeter.

Setelah itu operator (dokter gigi) bisa langsung melakukan pemeriksaan dengan mudah, bahkan perawatan sekaligus. Tugas perawat adalah membantu dan memantau langsung kinerja alat yang digunakan pada saat sedasi inhalasi. Setelah selesai, gas yang akan dikeluarkan alat sedasi inhalasi adalah Oksigen - O2 yang dikeluarkan sepenuhnya hingga mencapai 100% dosisnya. Sedangkan gas N2O akan menguap dengan sendirinya tanpa terikat dengan zat lain dalam tubuh. Pasien pun akan sadar dengan baik.

Pengalaman ini bagi saya sangat tak terlupakan tentunya, karena belum tentu setiap saat bisa ditemukan kembali. Mengingat butuh kesiapan dan fasilitas yang mumpuni untuk melakukan tehnik ini. Saya sempat mendokumentasikan kegiatan ini, jika ada yang berminat bisa saya share juga video dokumentasi tersebut.

Semoga bermanfaat.

2 komentar: